Minggu, 08 September 2013

Kisah Saat KKN



Rabu, 31 Juli 2013; 20.49
Posko KKN

Saatnya membuka mata. Terasa sakit tulang belakang, sebab tempat tidur yang begutu sederhana. Yang penting ada alas, pikirku. Kuraih hape di dekatku. 07.16 pagi, tersentak aku berpikir, betapa ruginya aku menghabiskan waktuku untuk tidur sampai tidak bisa menikmati udara dingin pagi hari.
Segera menuju sawah, berharap mendapatkan banyak pegagan. Objek yang kucari akhirnya kutemukan. Disinilah tempat tumbuhan yang berharga buatku saat ini. Pemandangan itu, di balik badan merapi. Begitu luas yang tertangkap di objek mata.
Setelah itu, aku mencoba mengajukan surat permohonan ijin. Dengan semangat, penuh harapan. Seakan-akan harapanku runtuh setelah melihat ekspresi tukang kebun yang ada di sekolahan tepat di sebelah posko. Wajah marah plus terlihat tidak senang dengan kedatanganku. Yaah, hanya bisa berharap di hari jumat lusa. Receive or ignore?
Petang hari. Terlintas dalam renunganku. Entah puasa tahun ini terasa tidak berkesan. Menyedihkan? Yah lumayan menyedihkan. Inilah masa-masa perjuangan yang harus dilalui. Apakah tahun depannya aku sudah menyandang gelar S.farm? hanya Allah yang mengetahuinya. Just move on, ujarku.
Berlomba-lombalah dalam mendapatkan kebaikan. Ramadhan ini tersisa hanya beberapa hari lagi. Aku sedih melihat teman-teman satu atap yang tidak begitu bersemangat dapat beribadah. Aku sedikit kecewa. Harapanku KKN ini bisa menjadi individu yang lebih baik. Setidaknya dapat terbiasa solat tepat waktu. Tapi entah apa yang terjadi. Untuk menunaikan solatpun sulit untuk diajak. Yah, aku hanya dapat mengambil hikmahnya. Aku akan lebih kuat menolak pengaruh2 yang buruk dari sekelilingku. Aku berharap setidaknya aku dapat merubah mereka, walaupun aku sadar tidak sebaik mereka.
Saatnya tarawih, yang berangkatpun hanya aku dari posko ini. Spontan aku mengisi barisan paling depan. Kulihat sekelilingku. Banyak tempat yang kosong. Bahkan yang ada di mushola itu hanya mbah2 yang sudah tidak kuat untuk berjalan. Apalagi untuk berdiri lama ketika menjalankan solat yang dikerjakan 4 rakaat sekaligus sekali salam. Sepanjang dalam mengerjakan solat, aku mendengar suara imam yang sudah bernapas pendek. Bacaanyapun tidak jelas. Dan terkadang ada bacaan solat yang kuanggap salah. Hanya berpikir, apakah kalangan tua berego tinggi untuk tidak ingin digantikan dengan kalangan muda. Atau kalingan muda yang tidak mau mengantikan kalangan tua.
Yaah, perubahan tidak cukup memerlukan proses yang pendek. Aku hanya segelintir dari mereka. Merasa menjadi orang asing, yang tak bisa berbuat apaapa. Diterima di sini saja aku sudah bersyukur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar