Rabu, 31 Juli 2013; 20.49
Posko KKN
Saatnya membuka mata. Terasa sakit
tulang belakang, sebab tempat tidur yang begutu sederhana. Yang penting ada
alas, pikirku. Kuraih hape di
dekatku. 07.16 pagi, tersentak aku berpikir, betapa ruginya aku menghabiskan
waktuku untuk tidur sampai tidak bisa menikmati udara dingin pagi hari.
Segera menuju sawah, berharap
mendapatkan banyak pegagan. Objek yang kucari akhirnya kutemukan. Disinilah
tempat tumbuhan yang berharga buatku saat ini. Pemandangan itu, di balik badan
merapi. Begitu luas yang tertangkap di objek mata.
Setelah itu, aku mencoba mengajukan
surat permohonan ijin. Dengan semangat, penuh harapan. Seakan-akan harapanku
runtuh setelah melihat ekspresi tukang kebun yang ada di sekolahan tepat di
sebelah posko. Wajah marah plus terlihat tidak senang dengan kedatanganku.
Yaah, hanya bisa berharap di hari jumat lusa. Receive or ignore?
Petang hari. Terlintas dalam
renunganku. Entah puasa tahun ini terasa tidak berkesan. Menyedihkan? Yah
lumayan menyedihkan. Inilah masa-masa perjuangan yang harus dilalui. Apakah
tahun depannya aku sudah menyandang gelar S.farm? hanya Allah yang
mengetahuinya. Just move on, ujarku.
Berlomba-lombalah dalam mendapatkan
kebaikan. Ramadhan ini tersisa hanya beberapa hari lagi. Aku sedih melihat
teman-teman satu atap yang tidak begitu bersemangat dapat beribadah. Aku
sedikit kecewa. Harapanku KKN ini bisa menjadi individu yang lebih baik.
Setidaknya dapat terbiasa solat tepat waktu. Tapi entah apa yang terjadi. Untuk
menunaikan solatpun sulit untuk diajak. Yah, aku hanya dapat mengambil
hikmahnya. Aku akan lebih kuat menolak pengaruh2 yang buruk dari sekelilingku.
Aku berharap setidaknya aku dapat merubah mereka, walaupun aku sadar tidak
sebaik mereka.
Saatnya tarawih, yang berangkatpun
hanya aku dari posko ini. Spontan aku mengisi barisan paling depan. Kulihat
sekelilingku. Banyak tempat yang kosong. Bahkan yang ada di mushola itu hanya
mbah2 yang sudah tidak kuat untuk berjalan. Apalagi untuk berdiri lama ketika
menjalankan solat yang dikerjakan 4 rakaat sekaligus sekali salam. Sepanjang
dalam mengerjakan solat, aku mendengar suara imam yang sudah bernapas pendek.
Bacaanyapun tidak jelas. Dan terkadang ada bacaan solat yang kuanggap salah.
Hanya berpikir, apakah kalangan tua berego tinggi untuk tidak ingin digantikan
dengan kalangan muda. Atau kalingan muda yang tidak mau mengantikan kalangan
tua.
Yaah, perubahan tidak cukup memerlukan
proses yang pendek. Aku hanya segelintir dari mereka. Merasa menjadi orang
asing, yang tak bisa berbuat apaapa. Diterima di sini saja aku sudah bersyukur.