Selasa, 24 Desember 2013

Keefektifan Asam Zoledronat untuk Menurunkan Kerapuhan Tulang pada Wanita Osteoporosis Pasca Menopause


I.           PENDAHULUAN

Osteoporosis adalah suatu penyakit gangguan skeletal sistemik yang ditandai adanya pengurangan atau penghilangan jaringan tulang, gangguan susunan atau bentuk tulang, dan kerapuhan tulang, sehingga tulang menjadi mudah patah (Murray, 2010).
Dilaporkan bahwa penderita osteoporosis pada tulang pinggul memiliki angka kesakitan dan kematian tertinggi. Hingga 50% penderita tersebut mengalami kesakitan permanen, dan 25% menjadi tidak dapat hidup mandiri kembali (Murray, 2010).
Menurut International Osteoporosis Foundation (IOF) terdapat 200 juta orang di dunia mengalami osteoporosis. Dilaporkan tahun 2000, 9 juta orang osteoporosis patah tulang, 1,6 juta orang patah tulang panggul, 1,7 juta orang patah tulang lengan bawah, dan 1,4 juta orang patah tulang belakang. Sekitar 40% - 50% wanita dan 13% - 30% pria mengalami tulang rapuh selama hidupnya. Diperkirakan tahun 2050, akan terjadi peningkatan kejadian tulang patah atau keropos pada wanita 240% dan pada pria 310%. Wanita yang telah menopause berkontribusi nyata dalam peningkatan jumlah penderita osteoporosis di dunia (IOF, 2013). Sebuah meta analisis menunjukkan wanita dan pria tua (geriatric) memiliki kecepatan kematian 5 sampai 8 kali lebih cepat setelah mengalami kerapuhan tulang pinggul dibandingkan penyakit lain (Murray, 2010).
Obat golongan bifosfonat adalah salah satu obat yang baik untuk mengobati penyakit osteoporosis. Bifosfonat bekerja sebagai inhibitor resorpsi osteoklas. Resorpsi atau penguraian tulang diakibatkan oleh adanya aktivitas dari osteoklas yang ada pada permukaan tulang (Murray, 2010). Osteoklas adalah sel fagosit besar multinukleus yang berasal dari monosit (sel darah putih). Sel ini jumlahnya hanya sebagian kecil dan keberadaannya diimbangi dengan adanya aktivitas osteoblas yaitu sel yang akan memperbaiki dan menggantikan bagian tulang yang diurai oleh osteoklas (William, 2008).
Osteoporosis diakibatkan oleh ketidakseimbangan antara osteoklas dan osteoblas, dimana terjadi kelebihan osteoklas atau terjadi proses resorpsi yang berlebihan dibanding proses formasi oleh osteoblas (Murray, 2010).
Alendronat, risedronat, pamidronat, asam zoledronat, dan ibandronat adalah golongan bifosfonat yang biasa disebut aminobifosfat atau Nitrogen-containing bisphosphonate yang berpotensi tinggi karena memiliki nitrogen pada rantai samping strukturnya (Sook,2006). Namun, dari penelitian sebelumnya menunjukkan asam zoledronat adalah bifosfonat yang paling poten terhadap pengobatan osteoporosis pada wanita pasca menopause. Obat ini diberikan lewat intravena dengan dosis 5 mg, sekali setahun (Kenneth, 2007).

II.          ISI
Normalnya, setiap orang memiliki jumlah osteoklas dan osteoblas yang seimbang, sehingga tidak ada pengurangan sel tulang. Fenomena ini bertujuan untuk menggantikan tulang yang sudah lemah dengan sel tulang yang baru dan lebih kuat (William, 2008).
Aktivitas sel osteoklas distimulus oleh hormon paratiroid yang disekresikan oleh kelenjar paratiroid tepat di belakang kelenjar tiroid akibat adanya pengurangan kadar kalsium serum. Sehingga kalsium dapat dibebaskan ke darah. Namun, sebagai feed back negative, aktivitas osteoklas juga diimbangi oleh hormon kalsitonin yang menstimulus kerja osteoblas dan diekskresikan oleh kelenjar tiroid. Aktivitas osteoblas dipengaruhi oleh hormone esterogen, testosterone, dan hormone pertumbuhan (William, 2008). Wanita menopause mengalami defisiensi esterogen yang mengakibatkan peningkatan sel imun untuk memproduksi sitokin yang akan lebih mengaktifkan osteoklas.

Gambar 1: Struktur bifosfonat dan analog pirofosfat (Murray,2010)
Bifosfonat adalah analog dari anorganik pirofosfat dengan absorpsi yang rendah di saluran cerna, dan diekskresikan melalui ginjal tanpa perubahan struktur dari proses metabolic (Sook, 2006). R1 merupakan rantai yang akan berikatan dengan tulang, sedangkan R2 yang dapat dimodifikasi sebagai mekanisme aksi dari obat ini (Bock, 2008). Bifosfonat atau nonaminobifosfat memetabolisme osteoklas menjadi bentuk yang tidak aktif dengan secara langsung merusak sel tersebut dan menginduksi terjadinya apoptosis. Aminobifosfonat bekerja dengan 2 cara, yaitu dengan meningkatkan terjadinya apoptosis sel dan menghambat keja enzyme farnesil pirofosfat sintase (FPPS), yang diperlukan dalam pembentukan farnesal pirofosfat pada jalur mevalonat. Sehingga menghambat pembentukan protein prenilasi dari GTPase (Ras, Rho, dan Rac) yang berfungsi untuk meregulasi fungsi dan morfologi dari osteoklas.     
  
Gambar 2: Mekanisme aksi bifosfonat dan aminobifosfonat (Matthew, 2008)
Zoledronat adalah golongan aminobifosfonat yang paling poten dalam menghambat FPP sintase dan memiliki afinitas yang tinggi dalam mengikat mineral tulang. Selain itu, penggunaannya dilakukan lewat intravena sekali dalam pertahun, sehingga hal ini sangat menguntungkan bagi pasien yang tidak patuh dalam penggunaan obat (patients compliance), jika diberikan obat bifosfonat oral yang harus dikonsumsi seminggu sekali maupun sebulan sekali (Bock, 2008). 
Sebuah penelitian yang menunjukkan keefektifan Asam Zoledronat secara random dan double blind dengan 7765 wanita menopause berusia 65 sampai 89 tahun, tidak mengalami patah tulang belakang, dan memiliki densitas tulang (BMD 2,5). Semua partisipan yang memenuhi criteria inklusi, diberikan terapi asam zoledronat (5 mg) atau placebo secara intravena 15 menit selama 3 tahun. Asam zoledronat atau placebo diberikan pada hari ke-0, bulan ke-12, dan bulan ke-24 dengan diberikan suplemen kalsium (1000-1500 mg) dan Vitamin D (400-1200 IU) setiap harinya. Kemudian perkembangan semua partisipan dimonitor pada bulan ke 6, 12, 24, dan 36 (Dennis, 2007).

Hasil penelitian:
Terhitung 3.889 partisipan menerima asam zoledronat dan 3.876 lainnya menerima placebo.
1.   2,5% (88 wanita) dari asam zoledronat kelompok dan 1,4% (52 wanita) dari kelompok placebo mengalami patah tulang pinggul (RR: 0,59; 95%, Cl: 0,42-0,83)
2.   Kelompok asam  zoledronat, mengalami penurunan kejadian patah tulang belakang maupun nonvertebral sebesar 25%, 33%, 77% (P<0,001).
3.   Terjadi peningkatan densitas tulang pada kelompok asam zoledronat secara signifikan pada pangkal paha (total: 6,02%; 95%, Cl:5,77-6,28), pada tulang belakang (6,71%; 95%, Cl:5,69-7,74), dan pada tulang paha (5,06%; 95%. Cl: 4,76-5,36) disbanding kelompok placebo (P<0,001) (Dennis, 2007).

Faktor risiko terjadinya osteoporosis:
1.   Usia. Bone Mineral Density (BMD) menurun seiring pertambahan usia. Dari pengamatan The United States National Health and Nutrition (NHANES), wanita yang telah mengalami menopause menunjukkan prevalensi yang tertinggi mengalami osteoporosis.
2.   Jenis Kelamin. Wanita paling beresiko mengalami osteoporosis karena memiliki tulang yang lebih kecil dan massa tulang yang lebih rendah dibanding pria.
3.   Perbedaan Suku (ethnicity). Pada wanita yang berkuit putih 2,5 kali lipat lebih beresiko mengalami osteoporosis.
4.   Keturunan Penyakit Osteoporosis. Seseorang yang memiliki keturunan penyakit osteoporosis biasanya berpeluang besar untuk mengalami osteoporosis atau lebih sensitive untuk mengalami penyakit ini.
5.   Penurunan Berat Badan. Penurunan berat badan mengindikasikan terjadinya penurunan densitas tulang.
6.   Kebiasaan Merokok. Orang yang merokok mengalami penurunan BMD 2% lebih rendah dari wanita menopause dan orang yang tidak merokok.
7.   Mengkonsumsi Alkohol. Orang yang mengkonsumsi alkohol memiliki BMD yang rendah.
8.   Berolahraga. Orang yang rutin berolahraga memiliki densitas tulang yang lebih tinggi. Olahraga fisik juga ditunjukkan pada wanita menopause yang memiliki massa tulang yang lebih tinggi.
9.   Diet. Diet tinggi kalsium dapat meningkatkan penyerapan kalsium. Selain itu memakan makanan kaya vitamin D, sangat penting untuk membantu penyerapan kalsium tulang.

III.          KESIMPULAN
1.   Osteoporosis dikarenakan ketidakseimbangan jumlah sel osteoklas dan osteoblas, dimana jumlah sel osteoklas lebih banyak dibanding jumlah osteoblas.
2.   Osteoklas adalah sel yang berperan pada proses resorpsi atau proses penguraian tulang. Sedangkan osteoblas adalah sel yang berperan dalam proses formasi atau memperbaiki tulang yang telah diurai oleh osteoklas.
3.   Osteoporosis banyak terjadi pada wanita pasca menopause karena terjadi defisiensi esterogen yang berfungsi dalam menekan proses resorpsi.
4.   Bifosfonat adalah obat yang efektif dalam mengobati osteoporosis dengan cara menghambat pengikatan antara osteoklas dengan mineral tulang dan mempercepat terjadi apoptosis pada sel osteoklas.
5. Obat golongan aminobifosfonat dapat mencegah terjadinya osteoporosis dengan cara menghambat enzim Farnesil pirofosfat sintase pada jalur mevalonat.
6.   Zoledronat adalah bifosfonat yang paling efektif dalam mengobati osteoporosis pada wanita pasca menopause karena memiliki afinitas yang tinggi untuk berikatan dengan mineral tulang sehingga dapat menghambat kerja osteoklas.
7.   Zoledronat dapat menurunkan kejadian kerapuhan tulang, patah tulang vertebra maupun nonvertebra.
8.   Zoledronat menguntungan pada pasien yang tidak patuh obat (patient compliance) karena terapi dengan obat ini hanya dilakukan sekali pertahun dengan dosis 5 mg secara intravena.

Kenali Penyebab Kanker



Kanker? Kemoterapi? Karsinogenik?
Apa yang ada dibenak anda jika mendengar penyakit kanker? Yah, tentunya penyakit yang sangat berbahaya dan peluang untuk sembuh sangat kecil. Kanker adalah suatu penyakit kronis, yang artinya penyakit yang tidak muncul tiba-tiba, tetapi jika terpapar senyawa karsinogen (senyawa yang mengakibatkan kanker) terus-menerus akan berpeluang pertumbuhan kanker di dalam tubuh. Terapi kanker yang disebut kemoterapi dengan obat kanker (sitostatika) yang saat ini tersedia tidak menjamin kesembuhan total, tambah lagi biaya terapi kanker terbilang selangit. Memang penyakit ini muncul akibat banyak faktor, dan salah satu faktor terbesarnya adalah karena lingkungan. Ada apa dengan lingkungan kita? Mengapa dijadikan kambing hitam? Apalagi dijaman yang segalanya canggih ini. Banyak orang tidak sadar akan banyaknya senyawa karsinogen di lingkungan sekitar.

Waah, jangan terlalu berfikir jauh, sob. Liat aja di sekitar kita banyak orang-orang yang egois yang mementingkan kepuasan belaka dengan merokok di tempat umum. (Ingat, ini kasusnya di tempat umum). Alasannya supaya gak ngantuklah, supaya tetap fit lah, supaya tetap konsenlah, halaaah....... dasar banyak alasan. Apapun alasannya, itu tetap tidak dibenarkan, kan sob?

Itu kan hak kami, toh yang menghisapnya kan kami bukan anda?

Oke, oke, hak seseorang memang tidak boleh diganggu-gugat. Tapi kalau perokok tersebut merokok di depan umum dan menghembuskan asap-asap rokoknya disetiap detiknya dan dihirup oleh perokok pasif, apa iya tidak dikatakan kalau Anda telah melanggar hak orang lain untuk mendapatkan udara yang sehat?

Siapa sih yang senang dipaparkan asap rokok? Ya, kecuali dia juga perokok berat tetapi tidak memiliki modal untuk membeli rokok. Maaf, saya bukannya melarang anda sekalian untuk merokok. Merokok ya silahkan tapi tolong asapnya hirup sendiri jangan bagi-bagi ke orang lain alias merokoklah di tempat ruangan tertutup.

Oke, pasti semua orang akan bosan mendengar efek-efek yang ditimbulkan akibat merokok. Di kemasannya pun sudah dicantumkan akibat penggunaan rokok. Tapi di sini kita tidak akan membicarakan asal muasal dari rokok maupun akibat penggunaan rokok secara umum.

Apa hubungan asap rokok dengan kanker?? Menurut cancer research UK di sebuah situs organisasinya mengenai Smoking and Cancer, asap rokok mengandung lebih dari 70 komponen, yang jika dihirup akan masuk ke paru, beredar ke pembuluh darah dan akan tersebar di dalam tubuh. Senyawa-senyawa ini dilaporkan dapat merusak DNA dan akan mengubah struktur gen. Sehingga mengakibatkan sel tersebut pertumbuhannya menjadi tidak terkontrol dan akan menjadi kanker. Aduuuuh, kalau bener-bener direnungkan kalian akan merasa ngeri. Nyatanya, benda yang sekecil itu dapat merenggut nyawa??

Selain itu, dari makanan yang kita makan juga ada yang bersifat karsinogen loh. Misalkan, dari kentang. Menurut peneliti dari Eropa dan United State di situs organisasi Nasional Cancer Institute, kentang yang diolah lebih dari 1200C alias digoreng menunjukkan kandungan akrilamid. Bahkan kadar akrilamid yang ada dalam kemasan makanan ringan dalam bentuk kripik kentang ternyata mengandung akrilamid yang lebih tinggi. Akrilamid merupakan senyawa yang berbentuk kristal putih yang juga bersifat karsinogen. Dengan kata lain, setidaknya kita bisa menghindari makan ma
kanan yang cepat saji. Akan lebih baik jika kita makan makanan yang sehat dan fresh. Iya ato iya??


Dan masih banyak lagi sumber-sumber karsinogen. Intinya sob, kita harus benar-benar menjaga kesehatan diri dengan selalu berpola hidup sehat. Kanker memang tidak datang secara langsung ketika kita terpapar senyawa karsinogen. Perlu diketahui, kanker tidak menunjukkan gejala-gejala diawal pertumbuhannya, tetapi akan terasa jika sudah memasuki tahap invasi (menyebar ke jaringan sekitarnya) dan metastase (menyebar masuk ke pembuluh darah dan membuat jaringan baru) yang semakin lama jika tidak tertangani sejak dini sel kanker ini akan semakin ganas dan parah. Sebenarnya akan lebih baik jika ditangani sejak awal. Tetapi bagaimana kita tahu jika penyakit ini ada tanpa gejala diawal pertumbuhannya? Yah, yang paling bisa merasakan keadaan adanya perbedaan dalam tubuh kita, ya kita sendiri. Jadi, kenali betul-betul keadaan tubuh anda.